Penghormatan Kepada Alm. Marsda TNI Purn. F Djoko Poerwoko

Djoko Poerwoko  

JAKARTA - Angkatan Udara kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, Marsda TNI (Purn.) F. Djoko Poerwoko yang meninggal dunia pada hari Selasa tanggal 9 Agustus 2011 karena sakit, di Brazil dalam usia 61 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri, dua orang anak dan tiga orang cucu.

Semasa hidup beliau adalah penerbang pesawat A4 Skyhawk dan jabatan terakhir sebagai Pangkohanudnas. Selain itu perwira kelahiran Delanggu, Klaten ini juga aktif sebagai penulis dan sesudah menyelesaikan tugas di Angkatan Udara menjadi penulis tetap di majalah Angkasa. Beberapa buku yang menjadi buah karyanya antara lain “Perjalanan dan Pengabdian Skadron Udara 11, My Home My Base, Great Airmen, otobiografi Menari di Angkasa (Anak Kampung Menjadi Penerbang Tempur).

F. Djoko Poerwoko adalah putra ke-3 dari 10 bersaudara pasangan Bp. Tunggal P (Alm) dan Ibu Kartini (Alm). Lulusan SDN 05 Delanggu, SMPN 1 Delanggu dan SMA Santo Yosef, Solo. Untuk mewujudkan cita-cita menjadi penerbang beliau mendaftarkan diri sebagai Akabri Udara dan lulus tahun 1973. Selamat Jalan “Beaver”, semoga surga adalah tempatmu dan Tuhan di sisimu.

 

Sumber: Suara Angkasa (Edisi Oktober 2011)

Djoko Poerwoko

Testimoni Untuk Seorang Sahabat, Rekan & Pembimbing: Alm. Marsda TNI (Purn) Djoko Poerwoko

Pertama kali saya bertemu dengan Pak Djoko adalah pada tahun 1993 saat mendampingi beliau pada kegiatan Pameran Kedirgantaraan di RAAF Amberley. Dengan penuh kegembiraan dapat dikatakan bahwa itulah awal dari persahabatan yang berkembang hingga 18 tahun mendatang.


Pak Djoko merupakan sahabat dekat negara Australia dan sekaligus pembimbing RAAF. Saat berpangkat Kolonel pada tahun 1990’an, Pak Djoko sering berkunjung ke Australia untuk kegiatan Airman to Airman Talks Operational Working Group. Selanjutnya saya kerap mendampingi beliau saat saya menjabat sebagai Perwira Hubungan Luar Negeri. Kami terus membina persahabatan pada tahun 1998-2000 saat saya ditempatkan di Jakarta sebagai Pembantu Atase Pertahanan.

Pak Djoko melaksanakan kunjungan balasan ke Headquarters Air Command pada tahun 2004 sebagai Pangkohanudnas dan kembali saya ditunjuk sebagai Perwira Pendamping. Kemudian pada bulan Januari and Februari 2005 saya dan Pak Djoko bekerjasama di Jakarta saat mengkoordinasikan berbagi kegiatan dalam hal mengenai penerbangan dengan satuan Angkatan Bersenjata dan LSM asing pada pasca bencana tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.

 Djoko Poerwoko

Pada saat Pak Djoko menjabat Pangkohanudnas, beliau menegaskan bahwa dalam hal perbatasan antara kedua negara tidak ada kesalahpengertian ataupun kesalahpahaman dan tidak pernah terjadi insiden “black flight’. Komunikasi beliau dengan Kedutaan Besar Australia tepat dan jelas. Keterbukaan telah menjadi gaya bicara beliau.

Pada tahun 2007 saat saya kembali ke Jakarta sebagai Wakil Athan Australia, salah satu hal yg membuat saya gembira adalah bahwa saya tetap bisa bertemu dengan beliau sesering mungkin. Setelah saya diangkat menjadi Atase Udara Australia di Jakarta pada tahun 2010, Pak Djoko menjadi Pembimbing dan menjadikan kami kerap ketemu, hampir setiap minggu. Beliau mengajari saya banyak hal sehingga saya kenal sejarah TNI-AU tentang organisasi dan prosedur dengan baik. Untuk itu, tiap saat saya membutuhkan suatu jawaban berkaitan dengan TNI-AU, maka Pak Djoko selalu dapat membantu. Bahkan beliau memberi sejumlah saran tentang cara memperbaiki kemampuan golf saya.

Pada tahun 2010, saya dan Pak Djoko bekerjasama dalam menyusun serangkaian artikel mengenai berbagai aspek mengenai RAAF yang akan diterbitkan pada majalah ‘Angkasa’. Untuk tujuan itu, saya dan Pak Djoko kemudian mengunjungi Canberra, Sydney, Brisbane, Newcastle dan Darwin untuk bertemu dan mendapat briefing dari petinggi RAAF, termasuk Kasau Australia Marsekal Mark Binskin, serta mengunjungi sejumlah satuan RAAF. Kunjungan yang paling berkesan adalah saat melakukan kunjungan ke detasemen Border Protection Command di Darwin dimana beliau sempat terbang dengan pesawat terbang tipe Dash-8 jenis pengamatan maritim.

Kami juga sempat berpergian bersama saat mengunjungi Pameran Kedirgantaraan Singapura tahun 2010 serta Pameran Kedirgantaraan Avalon di Melbourne tahun 2011.

Bulan Agustus 2011 yang lalu saya pergi keAustralia untuk berlibur dengan ayah saya. Sedangkan Pak Djoko berangkat ke Brasil untuk mengunjungi pabrik Embraer. Saya tahu bahwa Pak Djoko juga merasa senang dapat kesempatan pergi ke negara tersebut. Kami sepakat untuk bertemu kembali di Starbucks Kuningan pada tanggal 21 Agustus saat saya kembali dari Australia dan untuk bercerita tentang kunjungannya selama di Brasil. Namun saya begitu terkejut dan sedih saat mendengar Pak Djoko mendadak meninggal di Brasil.

Beliau adalah orang yang hebat, rekan sekaligus Pembimbing utama saya, dan lebih dari itu, beliau merupakan sahabat dekat saya. Tentu saja, saya akan senantiasa kehilangan Pak Djoko.

Group Captain Nick Bricknell, Air Force Attaché Australia

Berikut article Alm. Marsda TNI (Purn) Djoko Poerwoko yang telah dimuat oleh Majalah Angkasa:

  1. Menuju Kekuatan Pertahanan 2030, Majalah Angkasa, Juli 2010
  2. Menuju Kekuatan Pertahanan 2030, Majalah Angkasa, 10 Juli 2010
  3. World’s Best Small Air Force, Majalah Angkasa, 10 Juli 2010
  4. We Are On Board, Majalah Angkasa, 10 Juli 2010
  5. Eagle-17 on F-11 RAAF Cockpit, Majalah Angkasa, 8 Mei 2010
  6. Super Hornet Pesawat Super Mahal, Majalah Angkasa, Agustus 2010
  7. Rajawali Ausindo 2010, Majalah Angkasa, Oktober 2010


Leave a Reply

*