Patroli Keamanan Maritim Terkoordinasi (Corpat) Ausindo 2012 Tweet

 
LAUT TIMOR - Patroli Keamanan Maritim Terkoordinasi atau Coordinated Maritime Security Patrol (Corpat) tahunan yang ketiga antara Angkatan Laut Australia (RAN) dan Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) dilakukan di wilayah maritim antara Australia dan Indonesia pada 16 – 27 April 2012. 

Patroli terkoordinasi tersebut, yang berawal di Kupang dan berakhir di Darwin, menargetkan eksploitasi sumber daya alam secara gelap di Laut Timor, dengan perhatian khusus pada penangkapan ikan secara gelap, namun juga siap untuk memberi tanggapan pada segala masalah keamanan maritim lain yang muncul.

 

Peserta ADF mencakup HMAS PIRIE dan pesawat AP-3C Orion, sementara Angkatan Laut Indonesia mengerahkan kapal-kapal angkatan laut KRI Kakap dan KRI Tongkol serta pesawat pengintai maritim NC-212.  Baik kapal milik RAN maupun TNI-AL masing-masing didukung oleh kapabilitas intelijen, pengawasan dan pengintaian nasional masing-masing.

 

Pada pidato sambutannya pada 16 April di Kupang, ketua delegasi Indonesia, Laksma TNI Ari Soedewo, Komandan Gugus Tempur Laut Wilayah Timur, berujar masalah keamanan bahari merupakan keprihatinan kawasan di mana cara penyelesaian yang terbaik dilakukan melalui tanggapan kawasan. 

 

Dalam jawabannya, ketua delegasi Australia, AIRCDRE Ken Watson, Komandan Komando Utara (COM NORCOM) yang berbasis di Darwin, menyatakan penyelenggaraan patroli terkoordinasi meningkatkan kemampuan Australia dan Indonesia untuk bekerja sama dan meningkatkan interoperabilitas. Watson meneguhkan bahwa salah satu tujuan Corpat tahun ini adalah fokus pada peningkatan pertukaran informasi dalam bidang keamanan maritim. Hal ini mencakup informasi lokasi dan kegiatan-kegiatan kapal nelayan di kawasan maritim masing-masing yang dikumpulkan oleh kapal di laut dan pesawat patroli maritim dan yang disebarluaskan oleh markas besar antara kedua negara. 

 

Corpat 2012 dikembangkan di atas keterampilan-keterampilan yang ditumbuh-kembangkan selama pengulangan dua operasi sebelumnya melalui serangkaian kegiatan tahap pelabuhan dan laut.

 

Komandan NORCOM berujar bahwa para peserta RAN sangat menantikan pertukaran teknik-teknik dan taktik-taktik operasi  yang tercakup dalam lokakarya interoperabilitas dan prosedur kesadaran naik kapal (boarding procedure awareness) yang dilakukan dalam dua tahap selama dua hari, yaitu pada Tahap 1: Tahap Pelabuhan di Kupang dan Tahap 2: Tahap Laut kegiatan pada saat patroli terkoordinasi. 

 

Baik AIRCDRE Watson maupun Laksma TNI Soedewo berharap aspek-aspek antar-pribadi Corpat, termasuk olahraga yang telah direncanakan serta kegiatan-kegiatan sosial selama Tahap 3 di Darwin, termasuk pertukaran personil yang berlangsung sepanjang patroli tersebut, dapat meningkatkan saling pengertian dan persahabatan antara para anggota RAN dan TNI-AL. 

 

Salah satu pertukaran personil dilakukan pada 25 April saat Hari ANZAC, saat ketiga kapal Corpat berada di sekitar Marlon Bank di dekat Pulau Ashmore. Enam personil TNI-AL dari masing-masing kapal TNI-AL naik ke HMAS PIRIE untuk ambil bagian dalam Upacara Fajar Hari ANZAC dengan perwira dan awak kapal HMAS PIRIE. Momen penting dan kepedihan saat itu ditekankan dengan pelaksanaan upacara dilokasi Marlon Bank yang sangat dekat dengan daerah maritim di mana HMAS ARMIDALE yang asli (dari mana nama kelas HMAS PIRIE, kapal patroli kelas Armidale, berasal) tenggelam pada Desember 1942 oleh serangan udara 13 pesawat tempur Zero Jepang. Awak kapal 1942 HMAS ARMIDALE termasuk sekitar 60 anggota militer Indonesia dari Angkatan Darat Hindia Belanda, yang sedang menuju ke, yang mana sekarang dikenal sebagai Timor Leste, dalam upaya untuk mengevakuasi tentara Australia dan Belanda dan mengirim kontingen bantuan.

 
Corpat Ausindo 2012

Indonesia dan Australia bertekad untuk menciptakan lingkungan kawasan dan maritim yang aman dan bermaksud untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sejenis, yang dibangun di atas keberhasilan Patroli Terkoordinasi sebelumnya, di masa depan.